Murtiningsih

Guru Pembimbing di SMK N 2 Magelang...

Selengkapnya

Siapakah yang Salah?

Siapakah yang salah?

#mengikat makna#

Ini masih tentang kamu laki-laki tersayangku. Kegalauan hatimu yang selalu muncul ketika ada sesuatu yang tidak nyaman. Terus memintaku untuk mendengarkan walaupun kadang aku akan tertidur, kau tetap bercerita dan kadang aku terjaga ternyata cerita itu masih kau lanjutkan. Frasa judul di atas bukan untuk mencari pembenaran atas dugaan siapa yang berbuat salah. Bukan pula untuk melempar tanggung jawab akan kesalahan yang telah diperbuat seseorang. Apalagi, hanya untuk mendapatkan dukungan kebenaran atas semua permasalahan yang kita hadapi. Judul di atas hanya untuk refleksi diri apakah ada yang salah atas yang terjadi dan mengapa itu terjadi dan bagaimana seharusnya kita memperbaiki.

Laki-laki tersayangku pernah berkeluh kesah kepadaku tentang apa yang dihadapi pada saat tertentu. Memulai pembicaraannya, Ia bertanya padaku, Masih ingatkah kita ketika sampai pada tahun 80-an guru nyaman saja dengan kenaikan pangkatnya? Ya, istilah kenaikan pangkat otomatis membuat guru tidak mmerlukan pikiran yang aneh-aneh karena jika waktunya tiba maka kepala tata usaha menghubungi kita untukmenyiapkan syarat-syaratnya dan beberapa bulan berikutnya pangkat kita sudah naik. Bagi yang terkendala akan ijasah untuk naik pangkat pada golongan dan ruang tertentu difasilitasi dengan ujian. Setelah dinyatakan lulus ujian, maka pangkat kita akan naik tanpa harus menghitung sudah berapa banyak angka kredit yang sudah kita kumpulkan.

Dalam rangka meningkatkan mutu guru dan memberikan penghargaan atas prestasi guru, maka perubahan regulasi diberlakukan untuk kenaikan pangkat guru. Mulailah guru dihadapkan pada satuan angka kredit tertentu dengan berbagai syarat yang telah diatur agar kita guru dapat naik pangkat dalam golongan dan rang tertentu. Perubahan kebijakan ini disambut dengan suka cita oleh guru, karena beranggapan bahwa untuk mencapai golongan ruang tertentu tidak harus menunggu sampai 4 tahun setiap naik ruang. Dari golongan/ruang III/a sampai golongan ruang IV/a dapat ditempuh hanya 8 sampai dengan sepuluh tahun sedangkan untuk kenaikan pangkat otomatis memerlukan waktu 16 tahun. Oleh karena itu, dapat dibayangkan berapa tahun yang dibutuhkan seorang guru yang berijazah D1/D2 dengan golongan/ruang II/b untuk mencapai IV/a. Paling tidak dibutuhkan 28 tahun untuk mencapai golongan IV/a sehingga kadang banyak guru yang tidak bisa menikmati golongan/ruang IV/a sampai mereka pensiun. Perubahan regulasi kenaikan pangkat guru disambut dengan suka cita. Ketika semua guru sebagian besar berada di golongan ruang IV/a pada tahun 90-an, masalah mulai dirasakan. Sebagian besar dari mereka berhenti di pangkat tersebut dan menunggu kenaikan pangkat pengabdian menjelang pensiun. Kendalanya adalah keterbatasan kemampuan guru untuk melakukan penelitian dan menulisnya dalam laporan yang telah disyaratkan. Kemudian laki-laki tersayangku menutup masalahnya dengan siapa yang salah?

Kelihatannya laki-laki tersayangku belum selesai memberi ilustrasi. Apakah mama menjumpai berapa banyak guru generasi senior yang tidak bisa mengoperasikan komputer di sekolah mama? Begitu pertanyaannya kepadaku.Pasti ada guru yang tidak mampu mengoperasikan kompter, ada guru yang tidak melek teknologi informasi. Ketika zaman dulu mengajar cukup menggunakan kapur di papan tulis kemudian berubah menjadi penggunaan tinta di whiteboard terus berubah menjadi tulisan di plastik transparansi yang disorot di over head proyektor, maka semua tidak ada masalah. Ketika perkembangan teknologi begitu pesat dan guru dituntut untuk mampu menguasai TIK dalam proses pembelajarannya, maka masalah mulai muncul. Banyak alasan yang dimunculkan untuk menolak tuntutan perubahan tersebut. Bahkan, kata laki-laki tercintaku dalam rangka memfasilitasi guru supaya mau belajar komputer, guru-guru dibelikan laptop sebagai tuntutan pembelajaran pada sekolah rintisan bertaraf internasional. Tetapi apa yang terjadi? Sambil tersenyum laki-laki tercintaku memberikan isyarat bahwa ada guru yang terlalu sayangnya pada laptopnya tidak pernah dibuka dan masih tersimpan rapi dalam bungkusan plastik dan tasnya. Siapakah yang salah jika kita mendapatkan kenyataan ada sebagian guru kita yang tidak melek TIK?

Dua ilustrasi ternyata tidak cukup, laki-laki tercintaku masih juga melanjutkan ilustrasinya. Mama tahu nggak kalau banyak guru yang takut menulis bukan tidak bisa menulis. Beruntung mama terbiasa menulis dan memiliki beberapa buku walaupun dulu belum ikut pelatihan menulis di ruang ini. Juga murid-murid berapa banyak yang tidak takut menulis dan ketika ada lomba menulis tidak perlu menunjuk tapi semua murid ingin ikut semua? Ketakutan guru dan murid menulis tersebut, siapa yang salah? Pikir saya yang salah yang mereka sendiri mengapa tidak mau belajar menulis, komputer, atau melakukan penelitian. Ternyata jawaban dari suamiku tidak seperti yang saya pikirkan.

Mulailah panjang lebar laki-laki tercintaku menyampaikan jawabannya. Bagi guru yang tidak bisa melakukan penelitian, tidak bisa mengoperasikan komputer, merasa takut menulis karena memang kurikulum yang mempersiapkan mereka tidak relevan dengan kenyataan untuk hidup di 30 atau 40 tahun kemudian. Pada saat sekolah di SD sampai dengan bapak ibu guru kuliah pada tahun 70 an tidak ada yang membayangkan bagaimana hidup di zaman abad 21 yang penuh dengan tantangan. Apakah mereka waktu di sekolah dituntut seperti tuntutan yang dihadapi pada usia senjanya? Sampai dengan tahun 90 an seberapa banyak SKS yang menyiapkan guru untuk meneliti dan menulis. Seberapa banyak tuntutan kurikulum dalam proses pembelajaran guru untuk menulis, berkomunikasi, berpikir akan perubahan? Jadi, kita jangan menyalahkan mereka karena kita ini seharusnya bagian dari usaha perubahan kurikulum. Kalau dulu kurikulumnya tidak menyiapkan masa depan 50 tahun yang akan datang maka jika mereka hidup pada zamannya dan mengalami kesultan aka salahkanlah kurikulumnya.

Pengalaman yang berharga tersebut, membuat kita harus belajar betapa pentingnya kurikulum bagi generasi anak didik kita untuk menyiapkan menghadapi tantangan di zamannya bukan menyiapkan mereka pada zaman sekarang karena jika itu yang masih menjadi pola pikir kita maka sebenarnya kurikulum yang demikian hanya menyiapkan masa lalu anak didik kita yang hidup di masa yang akan datang. Refleksinya adalah guru jangan menolak sesuatu yang baru (kurikulum) walaupun terasa berat kita menjalaninya. Bukankah "important functions of curriculum in education are to development of individuals, producing responsible citizens, to develop basic skills and preservation and transmission of cultural heritage".

Semoga bermanfaat.

# Magelang, 15 April 2018 #

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Subhanallah , alhamdulillah..,sangat bermanfaat bunda. Jazakillah khoir untuk ilmunya. Baarakallah.

15 Apr
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali