Murtiningsih

Guru Pembimbing di SMK N 2 Magelang...

Selengkapnya
Quo Vadis: Setelah Penerapan Sistem Zonasi PPDB

Quo Vadis: Setelah Penerapan Sistem Zonasi PPDB

Quo Vadis: Serelah Penerapan Sistem Zonasi PPDB

#mengikat makna#

Pada hari jumat yang lalu diadakan rapat persiapan PPDB di sekolah kami. Saya mendapatkan tugas sebagai koordinator daftar ulang bagi peserta didik yang diterima di sekolah kami. Dari informasi kepala sekolah pada tahun pelajaran 2018/2019 diperoleh gambaran tetap dilaksanakan sistem zonasi dalam PPDB seperti pelaksanaan PPDB tahun lalu sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017.

Jika tahun lalu PPDB di jenjang SMK dikecualikan karena rumitnya karakteristik SMK maka pada tahun ini di Jawa Tengah ada informasi bahwa peserta didik dapat memilih sekolah lain sebagai pilihan kedua dalam satu rayon (karesidenan) dengan syarat sekolah tersebut memiliki jurusan yang sama dengan pilihan pertamanya.

Penerapan sistem ini dimaksudkan untuk pemerataan mutu pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak menginginkan adanya label sekolah favorit yang diisi oleh sekumpulan anak-anak pintar sehingga semua anak dapat ditampung dan tidak diskriminatif. Kebijakan sistem zonasi yang pertama kali dilaksanakan, khususnya di SMA di seluruh Jawa Tengah menimbulkan berbagai kendala. Yang terasa adalah sebagian sekolah kekurangan murid dan sebagian sekolah favorit menerima siswa dengan nilai hasil ujian nasional sangat rendah dibandingkan tahun - tahun sebelumnya.

Yang menjadi pertanyaan setelah rapat persiapan PPDB selasai bukan masalah tujuannya sistem zonasi tetapi apa yang harus dilakukan sekolah, pemerintah daerah, dan Kemdikbud setelah sistem zonasi diterapkan? Dalam konteks tujuan zonasi sebagai pemerataan mutu pendidikan maja variabel mutu memiliki banyak aspek dan harus dilakukan intervensi kebijakan secara sinergis dari banyak aspek tersebut secara holistik dan tidak parsial.

Seperti dipahami sebagian orang bahwa sekolah menjadi berprestasi karena sebagian besar siswa dari anak anak pandai. Mereka lupa bahwa sekolah hebat bukan hanya karena siswanya yang pandai tetapi juga ditentukan oleh guru yang hebat, kepemimpinan sekolah yang hebat, fasilitas yang hebat, dan kultur sekolah yang hebat. Pertanyaannya adalah jika semua siswa dapat sekolah di mana saja yang dekat dengan rumahnya sehingga terjadi pemerataan karakteristik peserta didik, apakah semua sekolah di berbagai wilayah dalam satu kabupaten memiliki kualitas guru, kepala sekolah, sarana, dan kultur yang sama sehingga semua siswa dapat berkembang optimal? Inilah salah satu yang mengganjal jika ada siswa yang pandai tapi mendapat sekolah yang tidak ideal maka potensinya tidak akan berkembang secara optimal.

Hemat saya, pemberlakuan sistem zonasi membutuhkan intervensi kebijakan lain yang cepat agar semua sekolah memiliki sarpras yang standar, memiliki guru yang profesional, memiliki kepala sekolah yang memiliki kepemimpinan sekolah yang hebat semua, dan memiliki budaya mutu yang hebat. Jika tidak dilakukan dengan simultan maka bertanyalah dengan nurani kepada kita seandainya kita memiliki anak yang berprestasi tetapi karena sistem zonasi dan harus di sekolah yang guru, kepala sekolah, sarana dan kulturnya tidak seperti yang kita harapkan, apakah kita rela?

Renungan ini menggugah semua yang memiliki kebijakan untuk segera berbenah. Jika tidak, maka sama dengan judul artikel ini yakni mau dibawaa ke mana setelah sistem zonasi diterapkan. Quo vadis sistem zonasi? Semoga bermanfaat.

#indahnyajadiguru#cintaterbaikku#cintatakpernahsalah#14mei 2018#

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali