Murtiningsih

Guru Pembimbing di SMK N 2 Magelang...

Selengkapnya

Kugenggam tanganmu di dunia, kudekap dikau di surgaNya kelak

Kugenggam tanganmu di dunia, kudekap dikau di surgaNya kelak

#mengikat makna#

Ini bukan masalah judul puisi atau cerpen yang mengisahkan seseorang atau perjalanan hidup tokoh terkenal. Penggalan kalimat dalam judul di atas hanyalah kalimat penutup dari obrolan kecil dengan laki-laki tercintaku tadi menjelang waktu sholat maghrib. Kami berdua memang tidak memiliki waktu yang panjang di siang hari. Maklum kami berdua bekerja sama sama sebagai abdi negara. Berangkat pagi pulang sore adalah rutinitas waktu yang kami jalani setiap hari kerja. Mengingat waktu yang tidak panjang di siang hari, maka sepulang kami bekerja kami sempatkan untuk berkomunikasi, ngobrol untuk menjalin kebersamaan dengan laki-laki tercintaku. Kata orang dalam berkomunikasi dengan pasangannya tidak dilihat dari panjangnya waktu yang digunakan untuk saling mengikat hati tetapi lebih karena kualitas komunikasinya.

Sambil ditemani teh hangat, kami berdua mulai ngobrol. Biasanya kami ngobrol tentang banyak hal mulai yang ringan-ringan sampai hal hal yang menurutku berat-berat. Dari masalah atau hal-hal kecil di tempat kerja, kejadian dalam perjalanan, sampai hal hal yang bersifat pribadi. Esensinya kami ingin melepas lelah sambil menjalin komunikasi yang selama seharian tidak bisa ketemu secara langsung dengan pasangan hidupku. Kami hanya berharap supaya tidak kehilangan momen sekecil apapun dengan pasangan hidup kami untuk terus saling memahami satu sama lain.

Kebiasaan yang kami bangun bersama pasangan hidupku ini tak terasa telah menginspirasi pada anak-anak kami bahwa berkomunikasi dalam keluarga itu sangat penting untuk mendapatkan kebahagian, saling memahami, saling mengerti, saing menerima, saling memberi dan akhirnya memberi kontribusi bersama dalam banyak hal di rumah tangga kami. Tidak ada yang tidak dikomunkasikan kepada kami apapun yang dirasakan oleh anak-anak kepada kami karena mereka menganggap ini menjadi bagian dari habbit keluarga kami. Ketika anak-anak kami menghadapi masalah atau mendapatkan prestasi apapun selalu mereka ceritakan kepada kami. Dampaknya bagi kami sebagai orang tua sungguh sangat luar biasa. Secara tidak langsung kebiasaan yang kami bangun tersebut memiliki dampak positif bagi perkembangan anak-anak kami.

Setelah ngobrol ke sana kemari, mulailah laki-laki tercintaku bercerita pengalaman-pengalaman lucu. Nah, kalau sudah pada obrolan ini ujung-ujungnya suami pasti akan merayu melambungkan perasaan wanita yang menjadi pasangan hidupnya ini. Berbeda dengan kebiasaan selama ini, ternyata cerita tidak berujung pada rayuan apalagi rayuan gombalnya tetapi justru dimulai dengan cerita yang yang serius dan ilmiah. Apalagi selama 4 tahun ini, suami berkarier di dunia yang sedikit berbeda dengan dunia guru yang ditekuninya selama 19 tahun. Banyak hal yang aku harus bertanya. Mama tahu nggak tadi apa yang disampaikan dalam apel bersama di hari senin, kami mengawalinya. Menurut penelitian WHO ternyata usia produktif seseorang itu tidak 56 atau 58 atau 60 tahun. Mama tahu berapa usia produktif orang saat ini? Pertanyaan mulai dilontarkan kepadaku. Aku hanya geleng kepala saja, selain belum baca juga ingin jadi pendengar yang baik saja untuk suami. Ternyata usia produktif menurut WHO kata pengambil apel pagi tadi adalah sampai usia 70 tahun. Terus menurut papa bagaimana? Pertanyaan ini sebenarnya untuk mencari tahu ending nya yang ingin disampaikan suami. Menurut suami jika usia produktif seseorang itu 70 tahun, maka saya masih produktif 27 tahun lagi dan suami masih 21 tahun lagi. Waktu yang masih sangat panjang dan bermanfaat jika kita isi dengan kebaikan dan sebaliknya waktu itu akan sia-sia jika tidak diisi dengan hal-hal diridhoi Allah. Saya mengiyakan apa yang dikatakan suami. Terus suami mengatakan kepadaku, mama tahu apa yang papa lakukan untuk mama dalam waktu produktif yang masih panjang ini. Sambil aku berpikir untuk jawaban yang tepat, suamiku sudah menjawabnya sendiri sambil membisikkan kata-kata lembut, "Akan kugenggam tanganmu di dunia, dan kudekap dikau di surgaNya kelak". Sambil tersenyum akupun tertawa merasa tersanjung. Terima kasih suamiku....

# cinta terbaikku #cinta terhebatku# romantisme keluarga#cinta takpernah salah #

Magelang, 16 April 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Oh...so sweet...Subhanallah. Baarakallah....bunda.

16 Apr
Balas

Jazakallah Bun.. Suamiku sll seperti itu bun, berpuluh tahun menikah msh saja jd pengagumku yg terbaik xixiz... Saling mendoakan nggih bun, sakinah mawadah warohmah

17 Apr
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali